Beasiswa Jurnalisme Warga Ekologis

Latar Belakang

Kemunculan internet dan media sosial disambut pro dan kontra. Di satu sisi, terdapat optimisme bahwa internet akan mampu meningkatkan partisipasi publik dalam berdemokrasi dan bahkan menciptakan masyarakat tanpa hierarki. Di sisi lain, muncul juga pendapat kritis yang menganggap internet dan media sosial adalah bentuk kontrol masyarakat pada level mikro dengan modus komodifikasi terselubung. Satu kenyataan yang tak dapat ditolak: meski aksesnya belum merata, tetap sulit untuk membayangkan dunia hari ini tanpa internet dan media sosial.

Pertanyaannya, bagaimana internet dan media sosial bekerja dalam melakukan eksploitasi terhadap para penggunanya? Bagaimana internet dan media sosial punya dampak bagi demokrasi, khususnya gerakan-gerakan kolektif?

Menuju Indonesia Fasis?

Kelas Fasisme di Indonesia

Latar Belakang

Kemunculan internet dan media sosial disambut pro dan kontra. Di satu sisi, terdapat optimisme bahwa internet akan mampu meningkatkan partisipasi publik dalam berdemokrasi dan bahkan menciptakan masyarakat tanpa hierarki. Di sisi lain, muncul juga pendapat kritis yang menganggap internet dan media sosial adalah bentuk kontrol masyarakat pada level mikro dengan modus komodifikasi terselubung. Satu kenyataan yang tak dapat ditolak: meski aksesnya belum merata, tetap sulit untuk membayangkan dunia hari ini tanpa internet dan media sosial.

Pertanyaannya, bagaimana internet dan media sosial bekerja dalam melakukan eksploitasi terhadap para penggunanya? Bagaimana internet dan media sosial punya dampak bagi demokrasi, khususnya gerakan-gerakan kolektif?

Coen Husain Pontoh

Coen Husain Pontoh adalah Editor IndoPROGRESS. Ia memperoleh gelar M.A dalam ilmu politik dari Graduate Center for Workers Education (GCWE), Brooklyn College, City University of New York (CUNY). Menulis beberapa, antaranya sebagai editor dan kontributor adalah “Oligarki: Teori dan Kritik” (Marjin Kiri, 2019). Buku terbarunya  sebagai editor dan kontributor adalah  “Marxisme, Kelas Menengah dan Politik” (IndoPROGRESS, 2023). 

Dr. Amin Mudzakkir

Peneliti sosial humaniora di BRIN. Setelah selesai S3 di STF Driyarkara (2021), dia juga mengajar di program pascasarjana Fakultas Islam Nusantara UNUSIA, Jakarta, dan Sekolah Kajian Stratejik dan Global UI, Jakarta.

Di antara publikasi terakhirnya adalah Feminisme Kritis: Gender dan Kapitalisme dalam Pemikiran Nancy Fraser (2022) dan Kosmopolitanisme Seyla Benhabib (2022).

Apakah Feminisme adalah Pelayan Neoliberalisme?

Jadwal dan Materi   Sesi 1, Kancah sosial dan intelektual Nancy Fraser Gender dalam tiga fase kapitalisme: kapitalisme liberal, kapitalisme-yang-dikelola-negara, kapitalisme neoliberal Kritik feminisme terhadap kapitalisme. Pengambilalihan kritik feminisme oleh kapitalisme.   Sesi 2, Teori kritis mazhab Frankfurt Kancah sosial dan intelektual kelahiran teori kritis mazhab Frankfurt Generasi pertama (Horkheimer dan Adorno) dan generasi kedua […]

Politik Identitas dan Politik Kelas​

Jadwal dan Materi   Sesi 1, 4 Maret 2023 Pengertian Politik Identitas   Sesi 2, 11 Maret 2023 Praktik Politik Identitas   Sesi 3, 18 Maret 2023 Pengertian Politik Kelas, Struktur dan Kesadaram Kelas   Sesi 4, 25 Maret 2023 Tentang Perjuangan Kelas   Pengampu Made Supriatma (ISEAS) Abdil Mughis Mudhofir, PhD  (Sosiolog) Muhammad Ridha […]

Roy Murtadho

Roy Murtadho merupakan pegiat studi agraria di Sajogyo Institute Bogor, sekaligus kader Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) dan sempat menjadi koordinator nasional FNKSDA pada 2018-2022.


Saat ini kegiatan sehari-hari mengajar di Pesantren Ekologi Misykat al Anwar Bogor, dan juga terlibat mengurus partai sebagai anggota Presidium Nasional Partai Hijau Indonesia

Kapitalisme dan Politik Demokrasi: Mitos dan Kemungkinan Politik Emansipasi

Kapitalisme dan Politik Demokrasi: Mitos dan Kemungkinan Politik Emansipasi Latar Belakang Berakhirnya Perang Dingin dan runtuhnya komunisme Uni Soviet kerap dipandang sebagai penanda yang mengakhiri sejarah pertarungan ideologi serta menjustifikasi persandingan antara kapitalisme dan demokrasi liberal sebagai tatanan ekonomi-politik yang paling ideal. Demokrasi liberal dipercaya secara luas sebagai wahana yang dapat memberi ruang bagi kontrol […]

Abdil Mughis Mudhoffir

Honorary fellow di Asia Institute, University of Melbourne dan dosen Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta. Ia juga direktur IndoProgress Institute for Social Research and Education (IISRE) serta komisioner Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA). Ia menyelesaikan studi doktoralnya di Asia Institute, University of Melbourne tahun 2019.

Bidang kajiannya adalah politik demokrasi, kapitalisme, illiberalisme, kelompok-kelompok kekerasan dan populisme Islam. Disertasinya berjudul ‘The State of Disorder: Non-State Violence in Post-Authoritarian Indonesia’ memperoleh penghargaan sebagai disertasi terbaik dari Faculty of Arts, University of Melbourne.

Buku terbarunya berjudul ‘State of Disorder: Privatised Violence and the State in Indonesia’ diterbitkan oleh Palgrave Macmillan (2022) dan dinominasikan memperoleh penghargaan EUROSEAS Social Science Book Prize tahun 2022.

Artikelnya berjudul ‘Islamic Militias and Capitalist Development in Post-Authoritarian Indonesia’ memperoleh penghargaan sebagai artikel terbaik tahun 2017 yang terbit di Journal of Contemporary Asia. Ia juga editor dan kontributor buku ‘Oligarki: Teori dan Kritik’ yang diterbitkan oleh Marjin Kiri.

Tulisan-tulisan akademiknya juga diterbitkan di Third World Quarterly, Georgetown Journal of International Affairs, Australian Journal of Asian Law, Journal of Media Asia dan Journal of Social Science serta dalam beberapa buku kumpulan tulisan yang diterbitkan oleh ISEAS dan Routledge.

Tulisan-tulisan populernya dapat ditemukan pada berbagai media seperti East Asia Forum, Melbourne Asia Review, Indonesia at Melbourne, New Mandala, The Conversation, Asia Dialogue, Jakarta Post, Project Multatuli dan IndoProgress.